Work Text:
Kala kedua tungkainya memasuki bangunan dengan nuansa hangat dan interior yang cukup memanjakan mata, indra pendengarannya disambut oleh musik mengalun lembut serta tatapan sengit dari seseorang bermanik abu yang tengah duduk pada bagian pojok bangunan tersebut.
Ia berjalan mendekat seraya membiarkan tawa nya kembali menguar tenang. Ketika telah berada pada jarak yang cukup dekat, ia melirik sekilas kearah tiga macam potong kue yang masih belum tersentuh sama sekali seolah pemiliknya sengaja untuk mengabaikannya sejenak.
“Lah, belum selesai mam mu tuh, meng.”
Arjuna mendelik kesal. Ia menggulirkan manik abu nya sebagai isyarat untuk Yudistira duduk sejenak di kursi sebelahnya.
Mau tidakmau Yudistira mematuhinya. Kursi tersebut digeser kian dekat kearah Arjuna karena manik abu milik kekasihnya entah mengapa menatapnya dengan pandangan memelas.
Kekhawatiran sempat menghampiri fikiran Yudistira. Ia sempat mengira kalau Arjuna mengalami perlakuan buruk atau hal lainnya sehingga membuat Arjuna terdiam membisu layaknya tersengat sesuatu.
Lantas ketika Yudistira telah menduduki kursi tersebut dan mendekatkan dirinya kearah Arjuna, kedua tangan kekasihnya segera memeluk lengannya disusul bisikan lirih pun terdengar pada telinga kanannya.
“Aku sakit perut, Tira..”
Yudistira mengerjap sejenak. Seketika tawa nya hampir meledak pecah tetapi untungnya langsung bisa ia tahan sekuat tenaga dengan menggigit bibir bawahnya kencang dan memalingkan kepala kearah lain.
Cubitan ringan sempat menarik kesadarannya untuk menoleh lagi kearah Arjuna yang tengah merona malu.
Mau bagaimana lagi, ternyata sedaritadi Arjuna menahan kegelisahan yang menumpuk pada benaknya dengan beragam hal rumit berbeda entah karena lupa membawa dompet atau karena kebetulan merasakan mules mendadak di waktu yang salah.
“Iyasudah gih sana ke toilet.” Yudistira berusaha meredakan tawa nya karena tatapan sengit dari Arjuna kian tajam dan juga membahayakan.
Apalagi setelahnya Yudistira harus menahan sakit yang mengenai sekujur lengannya sebab Arjuna tak main-main untuk melayangkan cakaran dan gigitan sebal mendengar Yudistira yang tak kunjung berhenti tertawa.
“Awas kau, ya!” Arjuna segera beranjak berdiri dan melangkah pergi menuju ke arah toilet.
Manik hijau yang tengah memperhatikan hilangnya raga sang kekasih pada tikungan ruangan yang memiliki petunjuk arah antara toilet dan ruang staff itupun kini menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.
Heran, selalu ada saja tingkah lucu yang Arjuna perbuat tiap kali lelaki tersebut mencoba pergi ke suatu tempat sendirian tanpa siapapun. Seharusnya mereka mendatangi cafe ini bersama-sama, namun ada project yang harus Yudistira tuntaskan siang ini dengan tingkat kesulitan tinggi hingga membutuhkan konsentrasi extra bagi Yudistira guna memastikan tidak ada kekeliruan dalam pengerjaannya.
Maka dari itu Arjuna pergi mendatangi cafe ini seorang diri sebagai bentuk aksi merajuk terhadap Yudistira yang sempat mengabaikan kehadiran Arjuna tadi di studio.
“Ada aja tingkahnya loh.” Yudistira menggumam pelan, ia meraih sebuah garpu khusus yang tersedia pada pinggiran piring untuk mengambil potongan kecil dari dessert milik Arjuna yang belum tersentuh.
Strawberry Shortcake. Cukup manis dengan hint asam-segar dari selai strawberry yang masih memiliki tekstur kasar sebab potongan buah di dalamnya menjadi daya tarik tersendiri bagi beberapa orang pencinta kue manis tersebut.
Kemudian manik hijau nya bergulir lagi pada tikungan ruangan untuk melihat apakah urusan duniawi Arjuna telah selesai atau belum.
Namun rupanya masih belum ada tanda-tanda kehadiran Arjuna. Yudistira sudah cukup faham bila kekasihnya terkadang butuh waktu yang cukup lama untuk menuntaskan panggilan alam.
Ketika ia hendak mengeluarkan ponsel dari saku celana nya, sebuah pergerakan halus yang mengenai betis nya membuat tubuh Yudistira sempat berjengit kaget. Yudistira langsung menundukkan kepalanya dan disambut oleh makhluk berbulu hitam dengan manik abu berekor panjang tengah mendusel manja pada kaki nya.
Yudistira terkekeh pelan, ia mengarahkan jemari nya untuk mengusap puncak kepala hewan tersebut lalu menggumamkan ucapan pelan yang mendapat respon berupa pergerakan antusias dari kuping serta ekor hewan di hadapannya.
“Meng, kamu kok keliaran disini? Kamu nyusulin aku kah?”
Namanya Anya, namun Yudistira sering memanggilnya dengan sebutan ‘meng’ saja karena ia berniat jahil membuat Arjuna bingung ketika mendengar nama tersebut ia ucapkan. Kucing ini sebenarnya tinggal di studio nya, bukan milik Yudistira sepenuhnya tetapi selalu disambut hangat untuk bertamu dan menetap selamanya disana.
Jemarinya turun menggaruk pelan leher kucing tersebut sampai terdengar purring lirih yang kian membuat Yudistira merasa gemas. Mirip sekali dengan Arjunanya.
“Kamu mau apa, meng? Mau jajan? Nanti aku beliin setelah balik dari sini, ya. Mau jajan berapa banyak? Mau rasa apa aja? Aduh, aduh. Lucu sekali si cantik ini.”
“Meow~”
“Kamu makin mirip Juna deh, apalagi kalau di elus-elus begini.”
“Ekhem.”
Pergerakan jemari Yudistira pun terhenti, kepalanya perlahan mendongak dan mendapati Arjuna telah berdiri di sisi sebrang meja dengan kening menekuk tajam serta kedua tangannya terlipat di dada.
Tawa canggung terselip keluar dari Yudistira yang kini menegakkan kembali tubuhnya walau tidak rela karena ia masih ingin memberi usakan pada Anya yang tengah mendusel manja lagi kearah kaki nya.
“Udah, beb?”
“Udah.” Arjuna menjawab datar, manik abunya Arjuna melirik sekilas pada Anya di dekat kaki Yudistira. Gurat wajahnya semakin kesal, Arjuna kembali mendudukkan diri namun pada kursi yang berada di hadapan Yudistira.
“Kok duduk disitu, yang?”
“Suka-suka aku. Nggak usah kau protes.”
Galak sekali jawaban yang diberikan layaknya cakaran tajam tengah Arjuna layangkan kepada kekasihnya.
Tidak ada hal lain yang bisa Yudistira lakukan selain menggaruk kepala belakangnya bingung. Ia mencoba menjulurkan tangannya untuk membujuk Arjuna yang semakin memalingkan wajahnya dan mencebikkan bibirnya kesal.
“Meng.” Yudistira memanggil dengan lembut, mengharapkan Arjuna yang membalas namun ia malah mendapatkannya dari Anya.
“Meow~”
Aduh, sial. Yudistira seketika ingin tertawa kencang ketika menyadari raut wajah Arjuna semakin kecut. Sepertinya sedikit lagi bisa saja Arjuna benar-benar akan menggigiti raga nya hingga habis tak tersisa.
“Bukan kamu, Anya.” Yudistira menunduk sejenak, tangannya memberi isyarat pada Anya untuk menjauh sejenak yang untungnya dipatuhi oleh hewan berbulu halus tersebut.
Arjuna yang sedaritadi memperhatikan dalam diam pun akhirnya membuka suara. “Kenapa Anya di usir? Kau udah nggak sayang lagi sama Anya?”
“Hah?” Yudistira membeo bingung.
“Kau ngusir Anya tuh maksudnya apa? Setelah usir Anya habis itu kau mau ngusir aku juga kah?”
Siapapun, tolong Yudistira sekarang juga. Sebenarnya Arjuna ini manusia sungguhan atau jangan-jangan titisan hybrid yang peka terhadap perasaan kucing sampai bisa mengira Yudistira akan melakukan hal keji seperti itu.
Kebingungannya terasa ingin meledak dan mengambil alih isi kepalanya yang hendak mengeluarkan perkataan asbun sebab heran melihat respon Arjuna.
“Jawab, jangan diem aja. Kau mau ngusir aku juga habis ini, kan?”
Batin Yudistira menjerit nelangsa. Padahal tadi Arjuna yang sebal melihat Anya berdekatan dengan Yudistira.
“Sayang, Arjunaku.” Yudistira meneduhkan tatapannya, ia menjulurkan tangannya lagi berupaya membujuk Arjuna untuk pindah kembali pada kursi di sebelahnya. “Sini, sayangku.”
“Huh.” Meski respon yang diberikan cukup jutek dan terkesan seperti mengambek, Arjuna tetap menerima uluran tangan Yudistira dan berdiri untuk kembali menduduki kursi sebelumnya tepat di sebelah Yudistira.
Setelah memastikan Arjuna duduk dan tangannya di genggam dengan erat, Yudistira mendekatkan kepalanya untuk mendusel ke sisi wajah Arjuna yang langsung mengeluarkan pekikan protes karena merasa geli terkena usakan rambut Yudistira.
“Ih, Tira, geli! Ngapain sih kamu.”
“Aku mau manjain kucing yang habis ngambek ini nih. Kenapa tiba-tiba galak sih, sayangku?”
“Nggak kenapa-kenapa tuh.” Arjuna masih betah mencebikkan bibirnya dan membiarkan tangan lainnya ia gunakan untuk mengambil potongan berukuran lumayan pada dessert di hadapannya lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya. “Sebal aja dengar omongan kau tadi.”
“Omonganku yang mana, hm?” Yudistira membubuhkan kecupan gemas ke pipi Arjuna yang menggembung karena tengah mengunyah.
“Yang tadi.” Arjuna tetap mempertahankan sikap juteknya meski sebenarnya Arjuna hampir meleleh kala merasakan jempol Yudistira memberikan sentuhan halus pada punggung tangannya serta kepala Yudistira menyandar ke sisi bahu nya.
“Yang tadi mana?” Bisikan halus itu menggelitik telinga Arjuna, membuat sekujur tubuhnya merinding dan punggungnya reflek menegak sampai membuat Yudistira mengangkat kepalanya untuk memastikan apakah Arjuna baik-baik saja. “Kenapa, meng?”
“Agak.. geli denger kamu ngomong bisik-bisik gitu di deket telinga aku. Jauh-jauh dikit lah, Tira. Aku masih mau ngehabisin dessert ku dengan tenang.”
Yudistira mematuhinya, ia memindahkan kepalanya untuk berlabuh ke atas meja dan mengarahkan wajahnya menghadap ke arah Arjuna. Tanpa melepaskan genggaman mereka, Yudistira menarik tangan Arjuna sejenak lalu mengecup punggung tangan Arjuna dengan lembut.
“Jadi kamu sebal kenapa, meng?”
“Nggak tau, aku udah nggak mood jawabnya.”
“Terus sekarang meng mau apa?”
“Mau abisin ini.”
“Iyaudah gih mam aja dulu, habis itu kita balik ke studio ku, ya.”
Arjuna tanpa sadar mengeratkan pegangannya pada garpu yang berada di jemari nya. Bibirnya mengatup rapat, membiarkan gigi nya tengah menggigit ujung garpu yang berada dalam mulutnya.
Kalau saja Arjuna tidak ingat mereka tengah berada di luar, mungkin saat ini Arjuna sudah luruh dan ingin tenggelam dalam pelukan Yudistira. Kekasihnya selalu memperlakukannya dengan penuh kelembutan, hal itu membuat Arjuna terlena untuk terus merasakan kasih sayang tiada hentinya dari Yudistira.
“Tira..” Arjuna berbisik pelan seraya menoleh kearah Yudistira yang dengan sigap menegakkan kepalanya lagi lalu mendekat kearah Arjuna.
“Kenapa, sayang?”
“Sisa dessert nya.. bisa di take away aja nggak, ya?”
“Harusnya sih bisa. Aku kenal mba-mba nya yang jaga kasir tuh.”
“Iyasudah.” Arjuna meletakkan garpu yang semula berada di tangannya ke atas meja dengan perlahan. “Aku nggak kuat ngehabisinnya.”
“Mules lagi tah, meng?”
“Ih, bukan.” Rona kemerahan samar tercetak kentara pada wajah Arjuna yang berusaha meneguhkan diri untuk tetap bersitatap dengan Yudistira. “Mau.. peluk..”
Jangan salahkan respon Yudistira yang kini membelalakkan manik hijau nya kaget ketika mendengar ucapan Arjuna sebab kucing kesayangannya jarang sekali mengutarakan keinginannya secara gamblang seperti ini.
“Meng.” Yudistira segera mengarahkan tangan lainnya untuk menempelkan punggung tangannya ke kening Arjuna yang berkeringat dingin. “Kamu nggak sakit, kan?”
“Ck, maksud kau apa, kutu kupret.” Arjuna melampiaskan kekesalannya dengan menjulurkan tangan lainnya untuk mencubit hidung Yudistira sampai sang empunya terbatuk pelan.
“Aduh, aduh. Ampun, yang. Sumpah, mau mastiin aja. Kamu gemes banget soalnya, apa jangan-jangan kamu beneran titisan hybrid kah, meng?”
Nah, kali ini gantian Arjuna yang membelalakkan maniknya kaget dan makin mengencang jemarinya untuk mencubit hidung Yudistira semakin keras. Perkataan asbun Yudistira agaknya membuat Arjuna merasa separuh malu bercampur separuh kesal.
“Kurang ajar! Aku ini manusia beneran, kocak!”
Mereka mungkin hanya berdua saja namun kericuhan yang mereka ciptakan sempat membuat beberapa pasang manik melirik keheranan. Bukan sebuah tatapan menghakimi atau menghujat, melainkan penasaran dengan pertikaian manis yang tengah terjadi.
Pada bangunan cafe di sudut jalan yang tak jauh letaknya dari tempat studio Yudistira bekerja, mereka menghabiskan sisa siang hari dengan mengukir cerita baru untuk diulang bersamanya nanti nya pada waktu yang akan mendatang.
Biarkan tiga potong kue dengan beragam rasa serta kehadiran Anya sedang menjilati sisi badannya menjadi saksi kelu atas manisnya interaksi Yudistira yang masih berupaya untuk menyelamatkan hidungnya dari cengkraman keras jemari Arjuna.
