Actions

Work Header

Setelah Hujan Membasuh

Summary:

Cerita Setelah Hujan Membasuh dari Yudistira dan Arjuna yang masih dengan statusnya sebagai hts alias hanya teman sebangku.

Notes:

!! NoteSun !!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Awan kelabu menyelimuti hari secara tiba-tiba. Sinar mentari yang tadi begitu terik menusuk kulit digantikan dengan guyuran hujan lebat. Di bawah pos satpam di sebelah gerbang sekolah menengah atas, ada satu siswa dengan muka merengut berdecak sambil menatap ponselnya. Angka jam di hpnya menunjukkan waktu 17:15, hampir senja dan dia masih terjebak di dalam sekolah karena ojek online yang dia pesan di aplikasi tak ada yang mau mengambilnya. Mungkin karena hujan yang lebat, sangat beresiko untuk berkendara. Tapi, gimana dia bisa pulang kalau begini caranya ...

“Belum pulang, Jun?” Suara motor berhenti di depan pos satpam. Si pengemudi membuka kaca helmnya yang ditutup setengah dan berteriak memanggil sosok Arjuna Arkana yang berdiri di pos satpam.

“Gak ada yang mau terima orderan gue, Dis,” jawab Arjuna saat Yudistira sudah turun dari motor dan ikut berteduh di bawah pos.

“Mau aku anter gak? Tapi aku juga gak punya mantel.” Siswa berambut hitam dengan warna hijau di bagian samping depan, langganan razia sampai yang merazia muak, itu melepas kacamata bulatnya yang basah terkena air hujan.

“Gak udah, Dis, ngerepotin lu. Gue nunggu agak redaan aja, siapa tau ada yang nyangkut.”

“Udah mau malem ini.” Yudistira melihat ke arah jam tangannya yang tahan air. Ia mengelap air hujan dengan jarinya, meski tetap tak begitu terlihat tapi cukup membantu untuk tahu waktu saat ini.

Arjuna sendiri menatap awan yang tampak kelabu secara rata di seluruh kota. Awan-awan abu itu benar-benar terasa mau runtuh mengguyurkan air yang selama beberapa bulan ini ditampung dalam musim kemarau. Tadi dia melihat perkiraan cuaca di hp juga menunjukkan bahwa hujan akan berhenti saat tengah malam. Sialnya lagi, baterai hpnya hanya tersisa 10%. Jelas tidak akan bisa bertahan sampai Arjuna menunggu hujan reda.

Tapi kasian Yudistira juga karena harus mengantar ke rumahnya yang seingatnya harus memutar dari rumah Yudistira sendiri.

“Gapapa, Dis, kasian lu.” Sejujurnya yang harus dikasihani dirinya sendiri, sih. Sial, sudah hari Seninnya.

“Udah, ayo. Nih, pake jaketku, udah basah, sih, tapi lumayan bua nutupin badan. Nanti aku ngebut juga biar kau basahnya gak banyak.” Yudistira melepas jaketnya yang sudah basah lalu memberikan kepada Arjuna yang hanya termangu di hadapannya.

“Gapapa, kah?”

“Gapapa. Ayo, Juna.” Yudistira kembali memakai kacamatanya, lalu berjalan ke arah motornya yang semakin basah dicuci oleh air hujan.

Arjuna akhirnya menurut diantar pulang tapi dia menolak memakai jaket Yudistira, apalagi saat teman sekelasnya itu memberikan helm kepadanya. Gila saja, semakin tidak enak Arjuna. Setelahnya, ia duduk di jok belakang motor matic milik Yudistira setelah ia menyimpan hpnya dengan baik dan benar di dalam tas. Sepatu dan kaos kakinya pun sudah dilepas dan ditaruh kresek yang didapatnya dari pos satpam.

Yudistira benar-benar mengebut menerobos hujan yang semakin lebat saat di tengah perjalanan. Arjuna sendiri langsung berteriak meminta si pengendara untuk memelankan kecepatannya. Bahaya sekali. Apalagi jalanan licin ditambah suara petir kencang dengan kilat yang begitu terang. Hal itu membuat Arjuna refleks memegang erat pinggang Yudistira sambil memejamkan matanya. Dia belum siap meninggal tapi untuk sekarang Arjuna sepertinya harus memaksa dirinya ikhlas kalau tiba-tiba meninggal.

Imajinasi buruk yang dipikirkannya itu untungnya tak terjadi. Yudistira, si racing handal, membelah jalanan yang sepi dengan selamat sampai di depan rumah Arjuna.

“Udah, sampai. Aman, 'kan?” ucapnya sambil memberikan kresek berisi sepatu milik teman sekelasnya yang tadi digantung di depan.

“Kocak lu! Mau mati gue tadi.”

Yudistira hanya tertawa. Reaksi Arjuna wajar karena ketakutan dia yang mengendarai motor dengan kecepatan 80 km/jam di tengah jalanan licin yang terguyur hujan disertai petir. Meski jalanan sepi tapi tetap berbahaya.

“Ya udah, aku balik, ya.”

“Neduh dulu, Dis. Makin kenceng hujannya, sekarang ditambah angin juga. Bahaya banget.”

Tawaran Arjuna membuat Yudistira melihat ke arah jalanan. Jalanan semakin tak terlihat, angin begitu kencang menyapu hujan sehingga terlihat seperti kabut. Ditambah Yudistira yang memakai kacamata, jelas menambah tingkat kesulitan untuk bisa menerobos hujan lebat saat ini. Akhirnya Yudistira menyetujui penawaran Arjuna, dia memasukkan motornya di teras rumah sambil menyampirkan jaketnya yang basah di atas motor.

“Masuk dulu. Mandi sekalian aja biar gak pusing,” Arjuna membuka pintunya membiarkan Yudistira mengikuti di belakangnya.

Ruang tamu yang terhubung dengan dapur terlihat adik Arjuna yang sedang sibuk berkutat dengan alat dapurnya sambil berkacak pinggang, sedangkan tangan kanannya memegang centong masak untuk mengaduk masakan di atas panci. Aya ditemani oleh seekor kucing berwarna campur hitam, oren, dan putih bernama Manya yang singgah di kursi dapur sambil tidur.

“Kok baru pulang?” Suara Aya terdengar keras menyambut mereka berdua yang baru memasuki rumah.

Arjuna nyengir saat adiknya menoleh ke arahnya. “Ketiduran di ruang OSIS tadi.”

“Ih, kocak banget!” Aya memutar matanya jengah. Tak heran dengan perilaku kakaknya yang betah sekali tinggal di ruang OSIS. Mentang-mentang jabatannya tinggi, dia malah jadi penghuni ruangan khusus organisasi siswa itu. “Loh, ada Yudis? Mau kerja kelompok, kah?”

Yudistira yang baru disapa Aya, turut membalas menyapa Aya yang masih sibuk masak. “Enggak, disuruh neduh sama Juna.”

Mendengar jawaban Yudistira, Aya hanya mengangguk. Ia kembali sibuk dengan peralatan dapurnya yang kini sedang ia cuci. Yudistira sendiri tetap mengekori Arjuna sampai ke kamarnya.

“Nih, baju. Cukup, kan? Lu mandi dulu aja.” Arjuna memberikan kaos dan celana pendek miliknya. Untungnya badan mereka tak jauh beda, meski Arjuna lebih tinggi 10 cm tapi untuk bentuk badan dia lebih kecil.

“Kau aja duluan. Itu udah bersin-bersin kedinginan dari tadi,” ucap Yudistira setelah memerhatikan Arjuna tak berhenti bersin-bersin sejak mereka masuk ke dalam rumah. Tangannya pun terlihat sedikit gemetar karena dinginnya air hujan yang membasahi tubuh.

Arjuna tak menolak. Dia benar-benar langsung pergi ke kamar mandi meninggalkan Yudistira di kamarnya. Air ember yang biasanya dingin terasa hangat saat mengguyur tubuhnya yang sudah basah terkena air hujan. Kepalanya pun tak luput dibilas agar tidak pusing. Tapi usahanya gagal karena hidungnya yang bersin-bersin tanpa henti membuat kepalanya jadi pusing. Sungguh, Arjuna tidak bisa sekali dengan hawa dingin yang menusuk.

Bahkan setelah mandi pun badannya langsung menggigil, hidungnya gatal sampai tak bisa menahan ingus yang terus keluar, kepalanya terasa berputar. Gawat, demam ini.

“Juna, sakit?” Yudistira bertanya setelah selesai mandi. Handuk masih disampirkan di lehernya sambil tangannya menggosok rambutnya sendiri agar cepat kering. Matanya melihat Arjuna yang terbaring dengan selimut yang menggulung beserta satu kotak tisu di tangannya dan kresek sampah untuk membuang tisu yang dipakai Arjuna.

“Gak enak badan aja kayanya,” jawab Arjuna dengan mata sayunya menatap Yudistira yang hanya berdiri di pinggir kasur.

Mata Arjuna menyergap melihat sosok teman sebangkunya itu dengan rambut berantakan habis keramas, wajahnya terlihat lebih cerah setelah mandi, lengannya yang menekuk dan terangkat memperlihatkan otot lengan yang terbentuk samar, bahkan piercing di alis yang menjadi sasaran guru BK itu terlihat begitu keren saat ini. Entah kenapa, wajah Arjuna terasa semakin panas melihat pemandangan di hadapannya. Ini faktor demamnya yang semakin tinggi atau faktor dia salti— “Eh, gak, ya! Mana ada!

“Udah minum obat, Jun?” Suara Yudistira membuyarkan lamunan Arjuna. Ia menggeleng sambil mengambil tisu untuk mengeluarkan lendir di hidungnya.

Tepat saat itu, Aya mengetuk pintu kamar Arjuna sambil menyuruh kedua laki-laki di dalam sana untuk makan. Apalagi mendengar kakaknya yang tiba-tiba flu, Aya juga siap dengan obat yang selalu sedia di rumah.

“Nanti aja. Gue mau merem sebentar, deh. Lu kalo mau ngapa-ngapain, terserah, ya.” Arjuna kembali menggulung tubuhnya dengan selimut, ia tarik sampai batas leher.

“Nanti tidurnya, makan dulu sekarang. Tunggu, aku ambil makannya sebentar.” Titah Yudistira tak bisa dilawan. Meski hampir saja Arjuna menolak lagi tapi Yudistira terlebih dulu keluar dari kamar untuk mengambil makanan di dapur.

Pas sekali, Aya masak sop ayam. Yang kuah-kuah cocok dimakan saat hujan di luar. Agak seram juga, sih, mendengar suara petir yang menggelegar dan suara angin yang menerpa hujan sampai membuat suara di atap yang rasanya ingin lepas. Takut juga tiba-tiba pemadaman listrik, takut juga rumahnya akan kebawa angin mendengar suara angin di luar yang begitu kencang.

“Bangun, Jun. Sini aku suapin.” Yudistira datang dari dapur sambil membawa piring berisi nasi dan sop ayam yang masih panas beserta segelas air hangat di tangan satunya.

Si pemilik rambut hitam dengan sedikit hijau itu menarik kursi belajar Arjuna agar bisa duduk tepat di samping kasur teman sebangkunya yang sedang sakit itu. Ada rasa bersalah juga karena mengajak Arjuna hujan-hujanan dan berakhir laki-laki itu flu dan demam begini.

“Gue bisa makan sendiri!”

“Aaaaa ....”

Ucapan Arjuna tak diindahkan Yudistira. Dia tetap menerbangkan sendok yang berisi nasi, sedikit kuah, dan ayam untuk datang ke mulut Arjuna. Mulutnya terbuka menitah Arjuna agar turut membuka mulutnya juga. Mau tak mau, yang dituntun membuka mulutnya menerima suapan Yudistira. Kali ini wajahnya tidak memerah, tetapi jantungnya yang berdebar kencang. Duh, Aya memasukkan apa, sih, ke dalam masakannya? Detaknya sungguh kencang membuat Arjuna sebisa mungkin tak mau menatap wajah teman sekelasnya itu.

Ingin sekali rasanya cepat-cepat menghabiskan makanannya karena semakin lama ia berdekatan dengan Yudistira, semakin tercium aroma wangi dari tubuhnya. Meski tadi mandi dengan sabun dan sampo miliknya, tetapi tak tahu kenapa wanginya beda. Bisa jadi karena aroma wangi sabun dan samponya menyatu dengan aroma tubuh Yudistira asli yang membuat Arjuna merasa nyaman?

Uhuk!

Arjuna tersedak saat memikirkan hal tersebut. Benar-benar aneh. Padahal suapan yang diberikan Yudistira juga porsinya sedikit-sedikit.

“Pelan-pelan nelennya. Kaya bayi aja,” celetuk si cowok yang menyuapi setelah memberikan minum air hangat untuk Arjuna.

“Bacot, ah! Sini gue makan sendiri,” balas Arjuna sambil merebut piringnya dari tangan Yudistira. Nada tingginya itu tak benar-benar marah. Dia salah tingkah sendiri dan tsundere makannya bisa begitu. “Lu juga makan sana.”

Tawaran Arjuna jelas diterima Yudistira tanpa basa basi. Jelas anak sekolahan itu lapar sekali, terakhir makan itu istirahat kedua di jam 12. Apalagi mencium aroma makanan Aya terlihat menggugah selera dengan ayam yang berlimpah dan berbagai macam sayuran yang dicampurnya. Dia pun turut makan bersama Arjuna di dalam kamar yang masih belum menghabiskan makannya meski sudah belasan menit berlalu.

“Abis ini aku pulang, deh, Jun. Tapi aku pinjem mantel, ya? Besok aku langsung kembaliin,” ucap Yudistira di sela makan mereka. Ia sempat melihat jam ternyata sudah jam 8 malam lebih. Tak terasa berlalu dengan cepat.

“Serius lu mau pulang hujan angin gini?” jawab Arjuna sambil membuka hpnya lagi untuk melihat perkiraan cuaca yang kesekian kalinya.

“Ya, masa gak?”

“Masa iya? Nginep aja, lah. Bahaya tau.”

“Jangan, lah— hachuu!' Ucapan Yudistira terpotong dengan hidungnya yang tiba-tiba gatal sampai bersin ikut-ikut Arjuna.

“Tuh, kan, lu sakit juga. Udah, nginep aja.”

Arjuna tidak mengerti kenapa dirinya begitu semangat membujuk Yudistira untuk tidur di rumahnya. Tentunya selain karena di luar hujan, angin, dan petir. Apalagi hari sudah gelap, sebagai pengguna kacamata Arjuna tahu betul betapa susahnya bertahan di bawah terpaan rintik hujan yang membasahi kacamata. Tapi ada alasan lain yang tak Arjuna ketahui juga tentang perasaannya yang semakin terpaku melihat Yudistira yang sedang bersin-bersin dan turut mengeluarkan ingusnya.

Aduh, lucu ...

Aduh, ganteng ...

Aduh, cantik ...

Aduh, gila!

Arjuna gila, bisa-bisanya mikir begitu saat temannya ikut kena pilek. Ia mengalihkan perhatiannya dengan turun dari kasur, tangannya membawa piringnya dan piring Yudistira yang kosong untuk dibawa ke dapur. Sempat ada adegan rebutan membawa piring tapi akhirnya Yudistira menurut untuk diam di kamar karena dia berkali-kali bersin saat adu argumen dengan Arjuna.

Kembali dari dapur, Arjuna turut membawa obat untuknya dan untuk teman sebangkunya yang terserang flu setelah hujan-hujanan tadi. Entah kenapa, badannya sekarang gampang sekali sakit karena terkena air hujan. Tak tahu karena sistem imunnya yang semakin lemah atau karena hujan sekarang membawa banyak polutan.

“Besok izin, Jun?” Yudistira bertanya saat Arjuna menyobek kertas di tengah buku untuk menulis surat izin tidak masuk sekolah karena sakit.

“Iya, lah. Ya, kali enggak?”

Yudistira mendengarnya pun tertawa. “Ini dia duta bolos kita.”

Arjuna ikut terkekeh, mengingat dirinya yang sering sekali bolos pelajaran. “Mana ada!” katanya masih sambil tertawa.

“Kau gak sakit juga bolos. Bilangnya ada OSIS, ternyata tidur.” Arjuna semakin cekikikan mendengar ucapan Yudistira. Kenapa, sih, Yudistira hapal betul kebiasaannya? Jadi malu tahu.

“Hmph! Sistem pendidikan ini bukan untukku,” balas Arjuna sambil bergaya sok keren seperti salah satu karakter anime.

“Arjunakoji, tuh.”

Mereka berdua tertawa bersama diselingi suara tarikan ingus dari hidung yang terus turun. Hidung yang begitu gatal karena tersumbat membuat kepala jadi pusing. Setelah Arjuna menulis surat sakit untuknya dan untuk Yudistira, ia menitipkannya ke Aya agar bisa diberikan ke kelas mereka yang berada satu tingkat di atas Aya.

Dirasa tubuhnya semakin lemas setelah minum obat, ditambah kantuk yang mulai menyerang efek obat membawa keduanya kini terbaring dalam satu kasur yang sama. Satu selimut bergambar kartun milik Arjuna, dia bagikan untuk Yudistira juga agar tubuh bagian bawahnya terbungkus dengan hangat.

“Selimutnya buat kau aja, Jun. Aku pinjem sarung aja,” ucap Yudistira sambil menggeser selimut untuk dipakai Arjuna sepenuhnya.

“Ada selimut yang hangat, kenapa pake sarung?”

Aduh, Yudistira bingung jawabnya. Soalnya jantungnya sedang tidak baik-baik saja berada di satu selimut dengan Arjuna. Bukan karena gay panik tapi karena dia memang naksir Arjuna. Terus sekarang berada satu rumah, satu kamar, satu kasur, satu selimut .... Rasanya seperti— deg-degan.

“Jangan gini, Jun.”

“Kenapa, sih? Lu gak nyaman sama gue?”

“Nanti aku makin naksir gimana?” Bodo amat, deh, sama kata orang yang bilang jangan confess ke temen nanti pertemanan putus. Soalnya Yudistira sendiri udah naksir Arjuna dari mereka SMP. Terus pas SMA ternyata satu sekolah lagi. Sempat beda kelas di tingkat pertama SMA. Baru pas kelas 11 ini mereka jadi satu kelas dan satu bangku.

“Apa, sih?! Kocak lu!” Arjuna kini menarik selimutnya lagi membiarkan temannya yang baru mengatakan cinta tipis-tipis itu kedinginan. “Udah sana tidur di lantai aja!” sambungnya sambil membelakangi Yudistira yang sedang tertawa kecil melihat wajah Arjuna yang memerah.

Lampu hijau rasanya. Yudistira tak heran lagi dengan mulut Arjuna yang meski bernada tinggi dan marah-marah tapi aslinya tidak begitu. Dan sekarang dia tahu bahwa Arjuna saat ini sedang salah tingkah mendengar ucapannya yang tadi.

“Makasih, ya, Arjuna,” kata Yudistira sambil ikut masuk ke dalam selimut. Dia geser sedikit badannya agar lebih mepet ke arah cowok yang sedang menatap tembok itu. “Arjuna cantik,” sambungnya tanpa aba-aba.

“Anjing!” Reflek Arjuna memaki. Tak tahu harus bereaksi bagaimana. Aduh, ini kalau diadu detak jantung pasti hasilnya seri soalnya keduanya sama-sama deg-degan parah. Apalagi Arjuna sendiri yang tiba-tiba dipanggil begitu, seluruh tubuhnya jadi semakin hangat, lalu mukanya jelas merah. Bantal guling yang ada di pelukannya kini berpindah untuk menutupi wajahnya agar tak terlihat Yudistira yang terbaring di belakangnya.

Telinganya yang masih mendengar suara tawa Yudistira membuat perutnya geli seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan. Tawa yang biasanya terdengar tengil, sekarang terdengar ganteng. Duh, jadi makin naksi— kesel!

Notes:

First time write fluff SFW again after 6 years ago, kinda nervous.

Thank you for reading ^^